oleh jefri susetio
“Budaya Jawa tak membolehkan munculnya kritik terhadap kebijakan pemegang kuasa—sebaliknya, budaya mengharuskan kita tunduk tanpa syarat pada pandangan penguasa... Oleh karena itu ijinkanlah saya kembali menjelaskan obat kami. Saya bisa bilang bahwa obat itu tak lain adalah pengorganisasian rasa tidak puas... Oposisi harus dilakukan terhadap pemegang kuasa..”
(Tjiptomangunkusumo)
“Jangan melawan, jangan marah... apalagi sampai anarkis! Jaga kesopanan, kita bangsa Jawa yang beradab. Bersabar saja, kita serahkan saja pada yang berwenang, pada Tuhan... semua pasti selesai”, begitulah kata-kata yang banyak kita dengarkan, entah dari aparat keamanan saat menghalangi buruh pabrik menuntut upah layak pada majikan dan pemerintah. Entah dari pejabat yang kebanyakan sudah tua-tua, atau entah dari anak-anak muda pro kemapanan yang mermental pengecut, manut, dan penakut!
Berbeda dengan apa yang dikatakan oleh seorang Dokter di tahun 1910-an, anak muda anak bangsawan bernama Tjiptomangunkusumo yang justru mengatakan bahwa marah (pada kekuasaan) itu penting, mungkin kalau tak diteriaki, kekuasaan yang angkuh dan busuk itu taka akan mendengar apap-apa karena telinga mereka sudah tersumpal dengan kondisi (keenakan) maupun ilusi-ilusi keindahan dari berkuasa. Bagi beliau, “rasa tidak puas” adalah “obat” yang harus diorganisir menjadi kekuatan kebersamaan yang siap mengalahkan penindasan dan ketidakadilan.
Terasa aneh bagi saya jika masih banyak orang yang membiarkan penindasan dan melihat reaksi perlawanan terhadap penindasan sebagai suatu hal yang “tidak sopan”, “konyol” dan dianggap sebagai tindakan yang negatif.
Sangat tidak adil menyuruh rakyat tertindas sopan karena orang yang teraniaya dan tertekan memang akan cenderung bertingkahlaku seperti itu. Bukan marahnya yang harus dilarang, tetapi penindasannya yang harus dihancurkan dan dilawan. Karena jika tak ada penindasan dan ketidakadilan, tak ada orang yang marah. Marah bukanlah semata tindakan negatif, tetapi memiliki pesan karena “marah” adalah bentuk komunikasi dari siapa saja yang tak punya saluran komunikasi.
Terlalu naif pula mengatakan bahwa mahasiswa tidak sopan hanya dengan menuntut dan berteriak, sedangkan ketidaksopanan orang kaya dan kaum penindas sendiri sungguh memalukan meskipun kadang lebih banyak disembunyikan.
Aturan, kesopanan, dan kemanusiaan apa yang tidak ada pada penindas dan penipu? Lihat saja: Mereka tak pernah sopan, negara diinjak-injak, uang negara, uang yang dipungut dari rakyat disikat, ditilap, dikorup! Bahkan Depag adalah salah satu lembaga yang sangat korup, pada hal di sana seharusnya jadi penjaga moral dan kemanusiaan. Lembaga moral, lembaga penegak hukum, agama, moral, hanya jadi topeng dan kedok bagi para pencoleng... Mereka tak pernah patuh aturan... lalu begitu pantas atau adilkah mereka hanya menyuruh-nyuruh: “Rakyat harus sopan, harus sabar, harus nrimo!”...
Seharusnya kita justru mendukung setiap upaya membuka kedok-kedok kepalsuan. Kita sebagai generasi yang benci kemunafikan, yang lebih mengetahui banyak kebusukan, tentu tak bisa dididik oleh para penipu. Bangkitlah kesadaran dan kepedulian... Sikat segala kemunafikan dan kepalsuan yang disokong oleh kemapanan yang dijaga kaum tua yang korup, tak adil.... jangan terlena oleh keadaan dan doktrin2 tua, lama, dan membatu... kita butuh gaya hidup baru yang lebih bermakna, tanpa penipuan, tanpa ikut-ikutan pada ketakutan dan keraguan!
Kita harus melihat fakta sejarah. Penjajahan dan penindasan, selain menginginkan rakyat yang ditindas miskin dan dapat dihisap, juga harus membuat mereka bodoh. Karena orang kalau bodoh tidak dapat berpikir dan tidak dapat mengetahui kalau mereka ditindas—karena kalau si tertindas mengetahui kalau mereka ditindas, mereka akan melawan atau minimal benci pada si penindas. Lepas dari itu, perlawanan tetap muncul. Dari jaman kuno hingga sekarang.
Beberapa peribahasa masa lalu yang masih tertinggal hingga sekarang yang dianggap maju, progresif menjelaskan ketertindasan rakyat dan memberi ruang kesadaran untuk melawan, misalnya adalah ungkapan-ungkapan kata seperti ini: “Nek awan duweke sing nata nek wengi duweke dursila”; “Mutiara asli tetap berkilau, meski ditutupi lumpur kebohongan”; “Becik ketitik ala ketara”; “Siapa menanam angin, akan menuai badai”; “Berakit-rakit kehulu berenang-renang ketepian – Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”; “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”; “Ada udang dibalik batu”; “Sedia payung sebelum hujan”.
Peribahasa-peribahasa ini belum diteliti latar-belakang kemunculannya dan kapan. Cuma alat budaya yang muncul pada masa seperti ini kebanyakan berupa puisi yang kemudian disarikan dalam pepatah dan peribahasa. Atau malah sebaliknya: hanya pesan-pesan bijak. Tetapi bukankah ia mewakili ekspresi filsafat orang-orang yang curiga pada kekuasaan dan penindasan atau penipuan; yang bahkan menjunjung tinggi nilai kebersamaan. Ekspresi pikiran yang berusaha mempetahankan kebenaran, yang dalam terma modern mirip dengan kata-kata dalam novel modernis yang realis dan sosialis, seperti tertulis dalam novel Maxim Gorky, “Ibunda”: “bahkan samudra darahpun tak mampu menenggelamkan kebenaran”.
Melawan kebudayaan yang gelap berarti melawan kepentingan orang-orang yang menikmati kegelapan tersebut. Pemikiran kegelapan berdiri selama ribuan tahun dengan berbagai macam kondisi kemanusiaan yang mungkin tak dapat dikatakan manusiawi. Penindasan demi penindasan, kebohongan demi kebohongan dipertahankan oleh mereka yang ingin berkuasa di atas kesengasaraan rakyat banyak. Maka bukan manusia kalau ia tak disediakan oleh syarat-syarat organik yang lebih baik daripada binatang, yang dengan nalarnya mampu merasakan adanya kepincangan dalam kehidupan (hubungan mereka dengan alam dan hubungan antara sesama manusia).
Capaian-capaian yang telah dihasilkan terus berkembang. Berhadapan dengan alam, manusia terus menyesuaikan diri dan mengantongi pengalaman dari perjalanan sejarah kehidupan. Pengalaman-pengalaman itu terakumulasi menjadi kekuatan produktif (ilmu pengetahuan dan teknologi) yang pada suatu fase tertentu disadari telah jauh meninggalkan kebiasaan lama. Dan selalu ada kebiasaan lama yang masih dipelihara oleh kalangan tertentu dalam rangka mempertahankan kepentingannya. Kepentingan ini lebih banyak bertentangan dengan kepentingan masyarakat banyak. Maka pertentangan-pertentanganpun terjadi.
Jadi inilah hukum sejarah yang selalu berlaku: selama ada penindasan, perlawanan akan selalu muncul. Jadi, apanya yang perlu diherankan? Yang menganggap orang yang menuntut dan melawan tidak sopan biasanya adalah orang yang kepalanya perlu dicuci. Sebab, seharusnya kita bertanya, kenapa mereka melawan? Kesimpulannya pasti karena mereka tertindas. Bukan malah berkoar-koar: “Ah, kalian tak sopan, mbok ya jangan gitu, kita ini bangsa beradab, kalau tidak puas sampaikanlah secara baik!”... ucapannya kayak pejabat jaman kuno sekali.***
=========================================
Penulis adalah mahasiswa ilmu politik semester 5 unimal dan aktif di solidaritas mahasiswa unt rakyat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar