Anak yatim secara harfiah dipahami sebagai seorang anak yang ayah handa andanya telah dipanggil terdahulu untuk menghadap yang Maha Kuasa.
Terkadang sulit bagi kita untuk menyadari/ mengerti di balik kenakalan anak yatim yang membuat kita sering marah berlebihan, di balik senyum, tawa dan canda seorang anak yatim yang menyimpan kesediahan yang sangat mendalam, di saat anak – anak seusianya mendapat perhatian dari kedua orang tuanya dan di saat anak – anak seusianya merayakan idul adha dengan gembira, penuh suka cita dan memakan masakan yang lezat dan istimewa buatan sang bunda, di saat itulah anak yatim mungkin tidak mendapatkan apa yang di rasakan oleh anak – anak seusianya. Mungkin saat seperti inilah anak yatim gelisah dan menayakan kepada ibunya dengan berkata :
Ibu kenapa tidak buat masakan dalam menyambut lebaran ......? kata sang anak
sang ibu hanya bisa tersenyum detir dan berkata kepada anaknya sabar ya nak, ibu tidak punya uang untuk membuat makanan, nanti kalau ibu sudah punya uang, ibu pasti buat makanan yang enak untuk kalian. Lalu sang anak pun berkata ” seadaianya ayah masih ada mungkin ibu sudah buat makanan”, melihat wajah anaknya perasaan sedih sang ibu pun tak ter-elakkan, berusaha dengan tegar dihadapan sang anak, secara berlahan ait mata sang ibu ber-linang dan jatuh menetes.
Ketika takbir berkumandang dan ketika malam mulai larut di saat anak – anak tertidur, di saat – saat inilah sang ibu terdiam berbaring di tempat tidur dengan sedih dan meneteskan air mata tak tahan membayangkan kenangan di saat masa – masa sang suami masih ada dan tak tahan memikirkan bagaimana masa depan anaknya kelak.
Pagi hari pun tiba, ketika teman – teman sang anak yatim menjemput dengan mengunakan pakaian muslim yang sangat bersih, rapi dan bagus. Sang anak pun berkata kepada ibunya ” ibu apa adik tidak punya pakaian yang lebih bagus lagi” ...? sambil menatap wajah sang anak ibu pun berkata ” nak saat ini baju inilah yang terbaik untukmu, ibu janji ketika kelak ibu ada rezeki, ibu akan belikan baju muslim yang beru dan bagus untuk mu, sang anak pun menjawab ”benar ya bu”, janji ya bu, dan sang ibu pun menjawab ” ia ” sang anak pun diam kemudian pamit kepada ibunya untuk berangkat ke mesjid.
Seusai pulang dari mesjid, melihat keadaan rumah yang sepi dan tidak istimewa seperti rumah teman – temannya sang anak yatim kemudian hanya diam dan teringat masa – masa di saat sang ayah masih ada, dengan keadaan rumahnya penuh dengan keceriaan. Secara berlahan air mata sang anak yatim pun menetes sambil menutup wajahnya sang anak yatim menangis tak mampu menahan kenangan di saat – saat ayahnya masih ada.
Demikianlah tulisan ini penulis buat, penulis sangat menyadari bahwa tulisan ini masih sangat banyak kekurangan dan kesalahan dan sangat jauh dari sempurna, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang mendukung dari pembaca. thanks
Penulis adalah mahasiswa ilmu politik semester V unimal
Tidak ada komentar:
Posting Komentar